align="center" behavior="alternate"> EMBUN HATI

Sabtu, 06 April 2013

Cinta Itu Fitrah




   Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Al-Rum [30]: 21)

KITA MANUSAI BIASA YANG MEMILIKI CINTA
TIADA YANG SALAH KARENA CINTA ADALAH ANUGRAH.
Justru cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai kehidupan dan menerbitkan harapan. Tiada masalah ada cinta pada manusia dan tiada pernah pula allah karuniakan selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar dua insane dapat bersama dalam satu bahtera asa.
Cinta adalah pemberian Allah dan kakarunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berfikir tentang-Nya.
Allah yang menjadikan rasa cinta antara jenis yang berlawanan, sama seperti Allah jadikan rasa cinta manusia terhadap apa pun yang diinginkan di dunia.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali’ Imran [3]: 14)

Lebih tinggi lagi dari itu, Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayangsebagai tanda bagi orang yang beriman.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah[911] akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.(QS Maryam [19]: 96)


CINTA bagi manusia adalah bagian dari fitrah, bagian dari naluri-naluri, al-ghara’iz. Al-Ghara’iz adalah naluri-naluri yang tidak dapat di indra mata, namun terdapat pada manusia dan ia menuntut pemenuhan.
al-ghara’iz bisa jadi naluri untuk mempertahankan eksisensi dan berorientasi pada diri sendiri (gharizah baqa’) seperti rasa ingin dihargai, takut bila merasa terancam, dan lainya. Bisa pula naluri untuk melanjutkan keturunan (gharizah nau’), seperti rasa saying terhadap orangtua dan anak, saudara, ataupun lawan jenis. Bisa pula mewujud dalam naluri untuk menyucikan sesuatu (gharizah tadayyun), seperti rasa takjub saat melihat  sesuatu yang agung ataupun naluri beragama itu sendiri.
CINTA sebagaimana yang kita bahas adalah Gharizah nau’. Dan sebagaimana naluri-naluri yang lain, ia menuntut pemenuhan . Maka wajar saat seseorang sudah balig, ia muai merasakan naluri ini. Bukan sebagai tanda yang salah, namun sebagai interaksi bahwasannya ia sudah siap melanjutkan keturunan manusia.
Bila cinta adalah karunia Allah Swt, mustahil Allah mengaruniakan sesuatu yang buruk.
Cinta bisa dimaknai sebagai potensi maksiat, juga bisa dimaknai sebagai potensi taat.
Makna cinta itu luas maka jangan di sempitkan dengan syahwat, kasihsayang itu terlalu tinggi untuk direndahkan  hanya dengan baku maksiat. Islam adalah agama yang mengajarkan cinta kasih. Cinta dari seorang suami kepada istrinyadan sebaliknya, dari ayah-bunda ke anak dan sebaliknya, sesame saudara, sesame manusia, dan seterusnya.
Islam tidak pernah mengharamkan cinta, Islam mengarahkan cinta agar iya berjalan pada koridor yang semestinya. Islam mengatur bagaimana menunaikan cinta kepada orangtua, cinta kepada saudara seiman, kepada sesame manusia, juga tentu cinta kepada lawan jenis. Bila kita berbicara cinta di antara lawan jenis,  satu-satunya jalan adalah pernikahan yang dengan semuanya cinta jadi halal dan penuh keberkahan.
SEBALIKNYA, Islam melarang keras segala bentuk interaksi cinta yang tidak halal. Bukan karena apa pun, tapi karena Islam adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada manusia itu sendiri. Cinta yang tidak semestinya, cinta yang tidak halal, itulah jenis cinta yang merusak.
Sialnya, kaum Muslimin kini hidup dalam kungkungan masyarakat yang sebagian besar salah kaprah memahami cinta. Kita hidup dalam masyarakat yang mendewakan kepuasan badani lewat eksploitasi seksual yang mereka kira sebagai cinta.
Tidak dikenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semua sudah berganti dengan  pergaulan bebas. Ada yang menyebutkan pacaran, teman tapi mesra, di balut dengan alasan kakak-adik, teman dekat, ataupun yang lainnya.
Apapun namanya , mereka berusaha memuaskan rasa senang kepada lawan jenis dengan cara-cara yang mereka kira Allah tiada menghisabnya.
Sayangnya, semua alasan yang dikemukakan, kelak tiada akan terucap. Karena dihadapan Allah akan bersaksi seluruh bagian tubuh walaupun lisan kita mengemukakan alasan dan pembenaran.
Sadari dini mari mendidik cinta agar ia bersemi dalam taat, bukan di rendahkan oleh maksiat. Ajarkan cinta agar ia membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yang ditanggung karena terbuai perbuatan terlaknat.

Sumber : Felix Y. Siauw, Udah Putusin Aja, Mizan Media Utama.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar