Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Al-Rum [30]:
21)
KITA
MANUSAI BIASA YANG MEMILIKI CINTA
TIADA
YANG SALAH KARENA CINTA ADALAH ANUGRAH.
Justru
cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai kehidupan dan menerbitkan harapan.
Tiada masalah ada cinta pada manusia dan tiada pernah pula allah karuniakan
selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar dua insane dapat
bersama dalam satu bahtera asa.
Cinta
adalah pemberian Allah dan kakarunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa
kita sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berfikir
tentang-Nya.
Allah
yang menjadikan rasa cinta antara jenis yang berlawanan, sama seperti Allah
jadikan rasa cinta manusia terhadap apa pun yang diinginkan di dunia.
Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS
Ali’ Imran [3]: 14)
Lebih
tinggi lagi dari itu, Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayangsebagai tanda
bagi orang yang beriman.
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah[911]
akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.(QS Maryam [19]: 96)
CINTA
bagi manusia adalah bagian dari fitrah, bagian dari naluri-naluri, al-ghara’iz.
Al-Ghara’iz adalah naluri-naluri yang tidak dapat di indra mata, namun terdapat
pada manusia dan ia menuntut pemenuhan.
al-ghara’iz
bisa jadi naluri untuk mempertahankan eksisensi dan berorientasi pada diri
sendiri (gharizah baqa’) seperti rasa ingin dihargai, takut bila merasa
terancam, dan lainya. Bisa pula naluri untuk melanjutkan keturunan (gharizah
nau’), seperti rasa saying terhadap orangtua dan anak, saudara, ataupun lawan
jenis. Bisa pula mewujud dalam naluri untuk menyucikan sesuatu (gharizah
tadayyun), seperti rasa takjub saat melihat
sesuatu yang agung ataupun naluri beragama itu sendiri.
CINTA
sebagaimana yang kita bahas adalah Gharizah nau’. Dan sebagaimana naluri-naluri
yang lain, ia menuntut pemenuhan . Maka wajar saat seseorang sudah balig, ia
muai merasakan naluri ini. Bukan sebagai tanda yang salah, namun sebagai
interaksi bahwasannya ia sudah siap melanjutkan keturunan manusia.
Bila
cinta adalah karunia Allah Swt, mustahil Allah mengaruniakan sesuatu yang
buruk.
Cinta
bisa dimaknai sebagai potensi maksiat, juga bisa dimaknai sebagai potensi taat.
Makna
cinta itu luas maka jangan di sempitkan dengan syahwat, kasihsayang itu terlalu
tinggi untuk direndahkan hanya dengan
baku maksiat. Islam adalah agama yang mengajarkan cinta kasih. Cinta dari
seorang suami kepada istrinyadan sebaliknya, dari ayah-bunda ke anak dan
sebaliknya, sesame saudara, sesame manusia, dan seterusnya.
Islam
tidak pernah mengharamkan cinta, Islam mengarahkan cinta agar iya berjalan pada
koridor yang semestinya. Islam mengatur bagaimana menunaikan cinta kepada
orangtua, cinta kepada saudara seiman, kepada sesame manusia, juga tentu cinta
kepada lawan jenis. Bila kita berbicara cinta di antara lawan jenis, satu-satunya jalan adalah pernikahan yang
dengan semuanya cinta jadi halal dan penuh keberkahan.
SEBALIKNYA,
Islam melarang keras segala bentuk interaksi cinta yang tidak halal. Bukan
karena apa pun, tapi karena Islam adalah agama yang memuliakan manusia dan
mencegah kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada manusia itu sendiri. Cinta
yang tidak semestinya, cinta yang tidak halal, itulah jenis cinta yang merusak.
Sialnya,
kaum Muslimin kini hidup dalam kungkungan masyarakat yang sebagian besar salah
kaprah memahami cinta. Kita hidup dalam masyarakat yang mendewakan kepuasan
badani lewat eksploitasi seksual yang mereka kira sebagai cinta.
Tidak
dikenal lagi kesakralan pernikahan dan kesucian diri, apalagi kehormatan dan
kemuliaan jiwa. Semua sudah berganti dengan
pergaulan bebas. Ada yang menyebutkan pacaran, teman tapi mesra, di
balut dengan alasan kakak-adik, teman dekat, ataupun yang lainnya.
Apapun
namanya , mereka berusaha memuaskan rasa senang kepada lawan jenis dengan
cara-cara yang mereka kira Allah tiada menghisabnya.
Sayangnya,
semua alasan yang dikemukakan, kelak tiada akan terucap. Karena dihadapan Allah
akan bersaksi seluruh bagian tubuh walaupun lisan kita mengemukakan alasan dan
pembenaran.
Sadari
dini mari mendidik cinta agar ia bersemi dalam taat, bukan di rendahkan oleh
maksiat. Ajarkan cinta agar ia membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yang
ditanggung karena terbuai perbuatan terlaknat.
Sumber
: Felix Y. Siauw, Udah Putusin Aja, Mizan Media Utama.
